MENYINGKAP TABIR GELAP SEJARAH PEMBERONTAKAN PKI 1948 DI MAGETAN

Buku ini menyajikan kisah kelam sejarah kekejaman PKI tahun 1948 yang merupakan salah satu mata rantai perjalanan bangsa. Melalui buku ini, kita sebagai generasi penerus bangsa dapat mengambil hikmah agar sekarang dan selamanya persatuan, darah, dan semangat membangun negara tidak digunakan untuk tujuan dan kepentingan sepihak.

Untuk membaca buku ini, sahabat perpustakaan dapat mencari nya di lantai 2 Perpustakaan Unissula dengan nomor panggil 324.209 ZAI m

Identitas Buku
Judul                        : Menyingkap Tabir Gelap Sejarah Pemberontakan PKI 1948 di Magetan
Pengarang               : Zainal Abidin
Penerbit                   : Gigih Pustaka Mandiri
Tahun Terbit             : 2021
Tempat Terbit           : Jln AFA 2 No. 14 Semarang
ISBN                        : 978-602-1220-34-4
Tebal Buku               : 3 cm
Jumlah Halaman      : 309 halaman

Sinopsis
Partai Komunis Indonesia (PKI) berdiri sejak jaman Kolonial Belanda. Semula bernama Indische Social Demokratische Vereniging (ISDV), tahun 1920 diubah menjadi Perserikatan Komunis Hindia dan tahun 1924 bernama PKI.
Kala itu usai kekuasaan parlemen diduduki oleh wakil partai, sehingga memungkinkan partai-partai politik untuk saling memengaruhi dan bertentangan. Setiap partai saling berebut kekuasaan hingga berakibat dalam waktu lima tahun (1945-1950) Negara kita mengalami sepuluh kali pergantian kabinet. Pemberontakan PKI 1948 pada dasarnya juga terkait dengan perebutan kekuasaan pada masa itu (Kabinet Hatta I).
Pemberontakan PKI Musso 1948 menambah beban negara yang sedang menghadapi konflik dengan Belanda, namun patriotisme tentara Siliwangi berhasil menggagalkan pemberontakan dan menangkap tokoh-tokoh PKI.
Pemberontakan PKI di Magetan tahun 1948 adalah ekses politik skala nasional yang berpusat di Madiun. Peristiwa ini membawa kerugian yang cukup besar dan korban yang cukup banyak. dengan ketegasan dan kesigapan pemerintah, dalam tempo 12 hari, gerakan PKI Musso padam dan revolusi “memakan anaknya sendiri”.